Senin, 25 April 2011

Sejarah Dewi Sartika



Salam Pramuka !!!
Saat pelantikan menjadi ambalan Dewi Sartika, kami di beri tugas untuk menceritakan kembali sejarah Dewi Sartika. Tujuannya yaitu, agar kita mengenal siapakah Dewi Sartika itu dan mencontoh sifat, sikap dan perilaku beliau.

Dewi Sartika dilahirkan di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 4 Desember 1884. Ia dilahirkan sebagai putri pertama anak kedua dari seorang ayah yang bernama Raden Somanagar dan ibu yang bernama Raden Ayu Radjaoermas. Sekolah Dasar diikutinya hanya dalam waktu 3 tahun. Walaupun pendidikan ini tidak berlangsung lama namun dalam diri Dewi Sartika telah tertanam rasa ingin tahu yang mendalam dan kepekaan pengamatan yang tajam.

Dewi belajar terus dengan menimba pengetahuan dari kehidupannya sendiri dan masyarakat luas sebagai gurunya. Pada pendidikan ini justru kedewasaan, kematangan dan ketetapan jiwa tercapai. Sumber yang ikut memberikan bentuk kedewasaan Dewi adalah : kebahagiaan, perasaan aman dan dilindungi pada masa kecil. Sikap Dewi dibentuk oleh bekal pergaulan yang demokratis di masa kecil.

Karena melawan Pemerintah Kolonial Belanda, R. Somanagar diasingkan di Ternate dan ibunya ikut ayahnya. Dewi dititipkan pada keluarga pamannya R. Demang S. Kartahadiningrat. Karena datang dari keluarga baru dijatuhi hukuman buang. Dewi diperlakukan dingin, dicemoohkan, dikucilkan. Di Cicalengka, Dewi belajar memasak, menjahit, menyulam dan kerajinan tangan lain yang berguna bagi kepentingan sendiri dan kepentingan orang banyak. Sebagai anak orang yang dibuang, Dewi tidak disukai pemerintah / kaum kerabat dan diperlakukan keras, tidak dimanja. Dewi tidak boleh belajat bahasa Belanda, hanya boleh mendengar dari balik pintu. Karena cerdas ia dapat menambah dan memperkaya pengetahuannya. Setelah ayahnya meninggal, ibunya kembali dari Bandung. Tahun 1902 Dewi meninggalkan Cicalengka dankembali ke Bandung, bertemu kembali dengan keluarganya. Di bandung ia berjuang untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak wanita agar mereka memperoleh kesempatan menuntut ilmu. Cita-cita Dewi ini tidak disetujui oleh ibunya, tetapi ia mendapat bantuan / dorongan Bupati Bandung RAA Martanegara dan seorang Belanda Den Hamer ( Inspektur Kantor Pengajaran ) dalam mewujudkan cita-citanya.

Tanggal 16 Januari 1904, tonggak pendidikan untuk wanita yang pertama kali didirikan dengan nama Sekolah Istri di Paseban, Kabupaten Bandung sebelah barat. Sekolah ini hanya terdiri dua kelas dengan jumlah 20 orang, dengan pengajar : Dewi Sartika dibantu oleh Ibu Purma, Ibu Uwit. Murid-murid perempuan ini diajar menulis, membaca, menjahit, berhitung dan agama. Sekolah itu mendapat perhatian dari masyarakat,murid-murid bertambah banyak, sehingga sekolah harus dipindahkan ke tempat yang lebih luas dan mata pelajaran ditambah.

Dewi Satika menikah dengan Raden Kandoeroean Agah Soeriawinata, seorang guru sekolah pada tahun 1906. Mereka bahu membahu membina sekolah. Dan pada tahun 1910 sekolah itu berubah menjadi Sekolah Kaoetaman Istri dengan ditambah mata pelajaran memasak, mencuci, menyetrika san sebagainya. Sehingga sekolah ini dapat mendidik anak gadis menjadi calon istri yang sempurna. Pada tahun 1911 Dewi Sartika memecah sekolah tersebut menjadi 2. Yang pertama adalah sekolah dengan masa belajar 3 tahun menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar, sedangkan yang kedua menggunakan bahasa Belanda dan Melayu sebagai bahasa pengantar. Dalam perkembangannya Dewi melihat bahwa kaumnya sudah mengerti apa arti dan manfaat mendidik anak perempuan. Dengan usaha masing-masing maka di beberapa kota kecil : Garut, Tasikmalaya, Purwakarta bermunculan Sekolah Kaoetamaan Istri.
Tahun 1911 itu juga Gubernur Jenderal di Batavia meninjau Sekolah Kaoetamaan Istri di Bandung. Ia sangat terkesan atas adanya sekolah tersebut. Sebelum Perang Dunia I, Dewi Sartika mendapat penghargaan dari Pemerintah Belanda tas jasa-jasanya di bidang Pendidikan. Dan selama Perang Dunia I, Dewi beserta suaminya berusaha mempertahankan sekolah dari masa kesukaran. Dengan bantuan Ny. Tydeman dan Ny. Hillen memohon kepada Pemerintah Belanda untuk mendirikan gedung baru. Akhirnya pada September 1929 berdirilah sebuah gedung sekolah baru dengan nama Sekolah Raden Dewi.

Suami Dewi Sartika meninggal pada tanggal 25 Juli 1939. Dewi merasa benar-benar kehilangan seorang yang sangat dicintainya. Hal ini sangat berpengaruh pada kesehatan Dewi. Setahun kemudian Dewi mendapat penghargaan II dari Pemerintah Belanda atas jasa-jasanya di bidang pendidikan. Tetapi pada masa pendudukan Jepang, Sekolah Raden Dewi mengalami berbagai kesulitan. masa ini merupakan masa berat bagi Dewi yang sudah berusia 50 tahun.

Pada masa perang kemerdekaan, Dewi terpaksa meninggalkan sekolah tercinta, mengungsi ke desa-desa. Dalam pengungsian ia jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia di Cineon pada tanggal 11 September 1947. Dewi Sartika tidak sempat lagi melihat sekolahnya, kebanggaannya. Kini Sekolah Raden Dewi tetap ada diasuh oleh Yayasan Dewi Sartika yang kemudian menetapkannya sebagai Sekolah Kepandaian Putri. Kemudian sesuai Surat Keputusan Presiden No. 252 tahun 1966 pada masa Presiden Soekarno memutuskan bahwa Dewi Sartika sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.



sumber : gambar dari google dan cerita dari arsip ambalan Dewi Sartika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar